Editor : Ocu Azhar
Tanah datar(JMG)-Berdasarkan informasi yang beredar di tengah-tengah masyarakat,tentang akan diselenggarakannya prosesi batagak penghulu dari kaum mandailiang dan kaum caniago, dibuktikan dengan telah tersebarnya undangan prosesi batagak penghulu tersebut memicu polemik di ditengah-tengah kaum dua suku tersebut dan berimbas menjadi keresahan ditengah-tengah masyarakat nagari pasie laweh.
Pemicu keresahan tersebut terjadi karena diduga telah melanggar adat salingka nagari pasie laweh yang selama ini telah “Di Panaiak Paturunkan” hal ini di ungkapkan H.Dt.Paduko Sirajo saat Musyawarah Besar (MUBES) kenagarian Pasie Laweh yang di ikuti datuak 4 Suku(Dt.Simarajo,Dt.Domanso,Dt.Paduko Sirajo dan Dt.Rajo Mangkuto) yang tergabung dalam Kerapatan Adat Nagari,penghulu-penghulu , niniak mamak ,urang ampek jiniah (Dubalang,Monti,Khatik,Malin) beserta seluruh lembaga unsur dan masyarakat Nagari Pasie Laweh, di Aula Kantor Wali Nagari Pasie Laweh, Sabtu ,1 Juli 2023.
“Saya atas nama Hidayat Dt. Paduko Sirajo selaku datuak pucuak pasukuan Piliang menolak keras rencana Prosesi Batagak Penghulu oleh Kaum mandailiang atas gelar “Yang dipertuan Sati”, dari kaum Caniago Dt. Simarajo dan Dt. Paduko, karena hal ini jelas-jelas telah melanggar aturan adat salingka nagari yakni,”Yang Dipertuan Sati”, dari sako Mandailiang tidak terdaftar dalam catatan /Tambo adat Nagari Pasie Laweh, yang ada hanya Sako Dt. Sati, dan untuk dua sako datuak dari pasukuan Caniago , yakni Dt. Simarajo dan Dt. Paduko tidak melalui kesepakatan Kaum dan tidak mengikuti adat salingka nagari “Nan di Panaiak di paturunkan” yang selama ini di berlakukan di nagari Pasie Laweh, maka dalam hal ini kami menolak keras rencana prosesi batagak penghulu tersebut, tegas nya.

Hal yang sama dipertegas Eljun Fitra Dt. Domanso selaku Datuak pucuak Pasukuan Gugun ” di nagari Pasie Laweh kita akan mambangkik batang tarandam, nan balipek jo talipek,tamasuak mangalupak dan manaiki kapalo banda baru,sarato padi sarumpun nan basibak , jadi di Nagari Pasie laweh selama ini tidak ada gelar adat “Yang di pertuan Sati “.
Selanjutnya wali Nagari Pasie Laweh Mukhtar Kiman sebagai pucuk pimpinan di nagari, Kami merasa tidak dihargai bahkan saya pribadi di ancam melalui pesan Whast App beberapa kali di duga dilakukan oleh 6 orang, yang isi nya , “apabila saya tidak menyetujui rencana prosesi batagak penghulu tersebut maka saya akan di gulingkan dan bahkan yang lebih parah lagi ancamannya akan menghancurkan kantor wali Nagari Pasie laweh, dan saya atas nama pemerintahan nagari menolak keras rencana batagak penghulu tersebut , imbuhnya.
Caldra Rajo Melayu selaku Dubalang Dt. Rajo Mangkuto dari pasukuan Mandailiang dengan tegas menyatakan sikap ” Saya bersama Dubalang-dubalang Penghulu yang ada di kenagarian Pasie Laweh menolak keras rencana prosesi Batagak Penghulu tersebut, yang konon katanya akan diselenggarakan di salah satu rumah gadang kaum mandailiang di Ekor koto, jika hal tersebut tetap diselenggarakan maka kami atas nama seluruh Dubalang akan menghadang dan membubarkan kegiatan tersebut”.
Selaku tokoh Muda putra asli Nagari Pasie Laweh serta yang terhimpun dalam kaum Pasukuan Caniago, Bonar surya winata S.Sos angkat bicara” rencana prosesi ini telah melangkahi kepala kami seluruh kaum Caniago, beserta masyarakat di kenagarian Pasie Laweh, maka dalam hal ini kami menolak keras rencana prosesi tersebut”.
Mubes Nagari Pasie Laweh di akhiri dengan penandatanganan nota kesepakatan yang dituangkan dalam Berita Acara Penolakan Prosesi Batagak Penghulu oleh Kaum Mandailiang atas gelar “Yang dipertuan Sati, beserta dua gelar Datuak dari kaum Caniago Dt. Simarajo dan Dt. Paduko, serta akan dikenakan Sangsi Adat yang berlaku di Nagari Pasie Laweh “Dibuang Sapanjang Adat” jika yang bersangkutan tetap melaksanakan Prosesi Batagak Penghulu tersebut.
(Tim)












