RONI EKA PUTRA BUKTIKAN GELAR BUKAN UKURAN, KETULUSAN YANG MEMENANGKAN HATI WARGA

Editor : Jean

PESISIR SELATAN – (JMG) Pepatah Minang “Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” menemukan sosoknya menjelang Pilwana Serentak 21 Oktober 2026. Sosok itu adalah Roni Eka Putra, atau yang akrab disapa Baron, Wali Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan.

Jika hari ini Baron dikenal sebagai Wali Nagari yang kreatif, inovatif, dan dekat dengan warga, jalannya tidak dimulai dari gelar akademik berderet. Ia berangkat sebagai anak nagari biasa, sosok sederhana dan apa adanya.

Bagi yang tidak mengenal dekat, ia terlihat keras. Namun bagi niniak mamak, alim ulama, bundo kanduang, pemuda, dan seluruh warga IV Koto Hilie, Baron adalah pribadi rendah hati, perangkul semua kalangan, dan ringan tangan. Jiwa sosialnya tinggi, selalu hadir saat warga membutuhkan. Modal ketulusan itulah yang menghantarkannya ke hati masyarakat, jauh sebelum ia masuk bursa Pilwana.

Ujian sesungguhnya datang pada Pilwana Serentak Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2025. Saat itu 59 nagari menggelar pesta demokrasi, termasuk IV Koto Hilie yang paling menyita perhatian. Sembilan putra-putri terbaik nagari maju sebagai bakal calon.

Aturan hanya membolehkan lima orang melaju ke pemilihan, selebihnya harus gugur melalui Tes Kemampuan Dasar (TKD) di Kabupaten.

Di fase ini, Baron sempat diliputi keraguan. Dengan kerendahan hati ia merasa ilmunya belum seberapa dibanding kandidat lain yang bergelar. Namun dengan usaha maksimal dan doa, hasilnya mengejutkan. Roni Eka Putra lolos dengan peringkat 3 dari 9 calon dan resmi menjadi Calon Wali Nagari IV Koto Hilie.

Lolos TKD bukan akhir. Baron memilih jalan blusukan. Dari kaum ke kaum, kampung ke kampung, dari kedai kopi ke kedai kopi, ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Perjalanan itu tidak mulus. Cemoohan, nada sumbang, bahkan serangan yang menyasar keluarga kerap ia terima. Latar belakangnya diragukan, pribadinya dicibir.

Namun Baron tidak pernah membalas dengan amarah. Ia menjawab dengan senyum, ketenangan, dan tetap sopan bahkan kepada mereka yang menjatuhkannya. Baginya, politik harus membawa kesejukan, bukan kebencian. Kekuatan itu datang dari keluarga dan sahabat setia yang berdiri kokoh di belakangnya.

Hasilnya, atas kuasa Allah SWT dan dukungan penuh masyarakat IV Koto Hilie, Baron meraih suara terbanyak dengan keunggulan signifikan. Bahkan perolehan suaranya disebut-sebut menjadi salah satu yang tertinggi dari 59 nagari yang menggelar Pilwana serentak saat itu.

Setelah dilantik, Baron tidak banyak bicara, ia langsung bekerja. Stigma miring tentang latar belakangnya ia patahkan dengan karya nyata.

Belum genap setahun menjabat, perubahan mulai terasa. Infrastruktur nagari bergerak, dari pembenahan jalan lingkungan hingga fasilitas umum. Semangat gotong royong yang sempat redup kembali hidup. Pelayanan di Kantor Wali Nagari dibuat lebih terbuka, cepat dan ramah, hingga kantor benar-benar menjadi rumah kedua bagi warga. Pemberdayaan pemuda dan UMKM pun digerakkan dengan ide-ide kreatif.

Kini nama Baron tidak hanya harum di Batang Kapas, tapi menjadi perbincangan di seantero Pesisir Selatan sebagai salah satu Wali Nagari yang kreatif, aktif, responsif dan solutif.

Kisah Roni Eka Putra adalah bukti bahwa kepemimpinan tidak diukur dari tingginya gelar di belakang nama, melainkan dalamnya ketulusan hati untuk melayani.

Menjelang Pilwana Serentak di 93 nagari se-Pesisir Selatan pada 21 Oktober 2026 mendatang, kisah ini menjadi pelajaran berharga. Bahwa setiap anak nagari punya kesempatan yang sama. Latar belakang bukan penghalang, selama ada niat baik, hati bersih, dekat dengan masyarakat, dan bersandar kepada Allah SWT.(InF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *