Editor : Jean
Tanah Datar -(JMG) Nasib peternak ayam petelur di Kabupaten Tanah Datar semakin memprihatinkan. Di saat biaya produksi terus melonjak akibat mahalnya harga pakan, harga jual telur justru mengalami penurunan tajam. Kondisi tersebut membuat banyak peternak mengaku berada di ambang kerugian dan mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan usaha peternakan rakyat.
Keluhan itu disampaikan sejumlah peternak saat ditemui wartawan JMG di Nagari Taluak, Kecamatan Lintau Buo, Sabtu (27/6/2026). Mereka menilai situasi yang dihadapi saat ini merupakan salah satu periode paling berat dalam beberapa tahun terakhir karena ketidak seimbangan antara biaya produksi dan harga jual hasil ternak.
Salah seorang peternak ayam petelur di Koto Panjang Lintang, Marisa Andriani (40), mengatakan harga telur di tingkat peternak kini hanya berkisar Rp1.250 per butir atau sekitar Rp375.000 per ikat yang berisi 300 butir. Angka tersebut dinilai sudah tidak lagi mampu menutup biaya operasional yang terus meningkat.
Yang kami keluhkan, harga telur terlalu murah, sementara harga pakan justru terus naik. Tahun lalu kondisinya tidak seperti ini. Harga pakan masih stabil dan harga telur juga lebih baik,” ujar Marisa.
Ia menjelaskan, harga pakan jadi ukuran 50 kilogram saat ini telah mencapai sekitar Rp400.000 per sak. Kenaikan tersebut secara langsung menggerus keuntungan peternak, bahkan tidak sedikit yang kini harus menanggung kerugian setiap hari hanya agar usaha mereka tetap bertahan.
Menurut Marisa, pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat kondisi tersebut. Ia berharap ada kebijakan yang berpihak kepada peternak, terutama melalui pengendalian harga pakan, stabilisasi harga telur, hingga program penyerapan hasil produksi agar peternak rakyat tidak semakin terpuruk.
Di tengah wawancara, Marisa sempat melontarkan candaan yang justru menggambarkan beratnya tekanan ekonomi yang mereka hadapi.
Yang langka bukan pakannya, tapi duitnya,” ucapnya sambil tersenyum getir.
Ungkapan itu menjadi potret nyata kondisi peternak yang kini kesulitan menjaga arus kas usaha di tengah meningkatnya biaya produksi.
Keluhan serupa juga disampaikan peternak lainnya. Menurutnya, persoalan bukan semata-mata disebabkan mahalnya harga pakan, tetapi juga melimpahnya produksi telur yang tidak diimbangi dengan daya serap pasar sehingga harga terus tertekan.
Ia mengungkapkan, beberapa bulan lalu harga telur masih berada pada kisaran Rp1.550 hingga Rp1.600 per butir. Kini harga tersebut merosot menjadi sekitar Rp1.250 per butir. Penurunan sekitar Rp300 per butir berarti peternak kehilangan sekitar Rp90.000 untuk setiap ikat telur berisi 300 butir yang dipasarkan.
Biaya pakan tetap tinggi, perawatan ayam tetap jalan, tenaga kerja juga harus dibayar. Sementara hasil penjualan terus turun. Kalau kondisi ini berlanjut, banyak peternak kecil yang tidak akan sanggup bertahan,” ujarnya.
Para peternak berharap pemerintah segera memperluas intervensi pasar melalui program penyerapan telur. Salah satu usulan yang mereka sampaikan adalah meningkatkan pelaksanaan program MBG dari satu kali menjadi tiga kali dalam sepekan agar kelebihan produksi dapat terserap dan harga telur di tingkat peternak kembali stabil.
Mereka menilai penyelamatan sektor peternakan tidak hanya menyangkut keberlangsungan usaha para peternak, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan daerah. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa kebijakan yang berpihak kepada peternak rakyat, bukan tidak mungkin banyak kandang akan berhenti beroperasi dan produksi telur lokal akan terus menurun.
Situasi tersebut menjadi alarm bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk segera menghadirkan solusi nyata. Tanpa intervensi yang cepat dan terukur, mahalnya harga pakan serta anjloknya harga telur dikhawatirkan akan memicu gelombang kebangkrutan peternak, mengancam pasokan telur lokal, sekaligus melemahkan sektor peternakan rakyat yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan. (RN)












