Editor : Jean
Padang – (JMG) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Sumatera Barat menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi perempuan dalam dunia usaha dan pembangunan ekonomi daerah. Komitmen tersebut mengemuka dalam Musyawarah Daerah (MUSDA) IX IWAPI Sumatera Barat yang digelar di Ballroom The Axana Hotel Padang, Kamis (3/9/2026).
Mengusung tema “Penguatan Organisasi IWAPI, Peningkatan Kapasitas dan Kolaborasi Menuju Perempuan Pengusaha yang Berkualitas di Sumatera Barat”, MUSDA IX tidak hanya menjadi agenda organisasi lima tahunan, tetapi juga momentum mengevaluasi perjalanan IWAPI sekaligus merumuskan arah gerak organisasi menghadapi tantangan dunia usaha yang semakin kompleks.
Ketua Umum DPD IWAPI Sumatera Barat Etty Nurhayati hadir bersama Ketua Panitia Rice Rizana, S.Pd., jajaran pengurus serta para Ketua DPC IWAPI se-Sumatera Barat. Kehadiran delegasi dari berbagai daerah menjadi gambaran bahwa geliat perempuan dalam dunia usaha telah tumbuh hingga ke berbagai wilayah di Sumatera Barat.
MUSDA menjadi ruang bagi para pengusaha perempuan untuk membawa aspirasi dari daerah masing-masing. Berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha perempuan, mulai dari peningkatan kapasitas, akses terhadap jejaring usaha, pengembangan pasar hingga kebutuhan kolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta, menjadi bagian penting dari arah pembahasan organisasi.
Tak Cukup Banyak Anggota, IWAPI Dorong Peningkatan Kapasitas
Di tengah perubahan ekonomi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, IWAPI Sumatera Barat menilai keberadaan organisasi harus memberikan manfaat nyata bagi anggotanya.
Penguatan organisasi tidak semata diukur dari jumlah anggota, tetapi juga dari kemampuan IWAPI menciptakan ekosistem yang mampu mendorong anggotanya berkembang.
Karena itu, peningkatan kapasitas menjadi salah satu agenda penting. Perempuan pengusaha didorong tidak hanya mampu menjalankan usaha secara konvensional, tetapi juga memiliki kemampuan manajemen, inovasi, pemasaran, membangun jaringan serta membaca peluang ekonomi yang terus berubah.
Kolaborasi juga menjadi salah satu kata kunci yang mengemuka dalam MUSDA IX.
IWAPI diharapkan mampu membangun kemitraan lebih luas dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan, dunia pendidikan, sektor swasta maupun berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan jejaring yang kuat, persoalan klasik yang kerap dihadapi pelaku UMKM dan pengusaha perempuan dapat diurai secara lebih konkret.
Etty Nurhayati IWAPI Harus Kuat, Mandiri dan Diperhitungkan
Ketua Umum DPD IWAPI Sumatera Barat Etty Nurhayati menegaskan, MUSDA IX harus menjadi momentum untuk membawa organisasi ke arah yang lebih kuat dan profesional.
Menurutnya, IWAPI tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus hadir sebagai organisasi yang memberikan ruang bagi perempuan pengusaha untuk berkembang.
Kami ingin IWAPI menjadi organisasi yang kuat, mandiri, dan diperhitungkan — tempat setiap perempuan pengusaha merasa didukung, dibimbing, dan diberi ruang untuk berkembang sejauh kemampuannya,” tegas Etty.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan tantangan IWAPI ke depan. Organisasi harus mampu menjawab kebutuhan anggotanya di tengah dinamika ekonomi yang menuntut kecepatan beradaptasi, inovasi dan kemampuan membangun jejaring.
Perempuan pengusaha tidak cukup hanya memiliki keberanian memulai usaha. Mereka juga dituntut mampu mempertahankan, mengembangkan dan memperbesar skala usaha sehingga memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
MUSDA IX Menentukan Arah Organisasi ke Depan
Selain menjadi forum evaluasi, MUSDA IX juga menjadi ruang untuk menyatukan visi dan menyusun program kerja organisasi ke depan.
Delegasi DPC IWAPI dari berbagai daerah membawa pengalaman dan persoalan masing-masing. Pertukaran gagasan tersebut diharapkan melahirkan kebijakan organisasi yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan perempuan pengusaha di lapangan.
Bagi IWAPI Sumatera Barat, penguatan perempuan dalam sektor ekonomi memiliki arti strategis. Ketika perempuan mampu mengembangkan usaha secara mandiri, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha itu sendiri, tetapi juga keluarga, tenaga kerja yang terlibat hingga lingkungan ekonomi di sekitarnya.
Karena itu, hasil MUSDA IX akan menjadi salah satu pijakan penting dalam menentukan seberapa jauh IWAPI mampu mengambil peran dalam pembangunan ekonomi Sumatera Barat.
Semangat yang dibangun dalam forum tersebut kini harus diterjemahkan menjadi program yang terukur dan berdampak.
Sebab, tantangan terbesar IWAPI setelah MUSDA bukan sekadar menghasilkan keputusan organisasi, melainkan memastikan keputusan tersebut benar-benar melahirkan perempuan pengusaha yang semakin kuat, mandiri, profesional dan berdaya saing.
MUSDA IX telah dibuka. Kini pekerjaan sesungguhnya dimulai: membawa perempuan pengusaha Sumatera Barat dari sekadar bertahan menuju naik kelas dan mampu menjadi kekuatan ekonomi daerah.(RN)












