Editor : Hari Styn
Karanganyar ( JMG ) Dilereng gunung Lawu diselimuti kabut kebal, dahulu kala ada sebuah desa tua yang tak berpenghuni yang dinamakan desa tanah kabut yang tak bernama. Rabu 6 Mei 2026.
Juru kunci gunung Lawu Ki Rekoso Argo Lawu yang ditemui awak media Jejak menjelaskan sejarah keangkeran misteri desa kabut tanah tua yang tak bernama, desa itu jarang dikunjungi masyarakat karena masyarakat percaya dipuncak gunung itu dihuni sosok dukun sakti yang ditakuti penduduk.
Sosok tersebut bernama Kijang Rana, ia yang sangat ditakuti semua penduduk orangnya tinggi besar memancarkan mata merah seperti bara api, rambutnya panjang yang siap membakar apa saja yang berani menyinggungnya.
Selama puluhan tahun kijang Rana menjadi penguasa gaib puncak gunung lawu, ia memerintah tanpa tanya, namun seluruh penduduk tunduk padanya setiap malam Jumat Kliwon dari puncak Lawu terdengar suara gamelan tanpa wujud disertai cahaya merah yang menari nari diatas puncak gunung Lawu mereka yang sering naik dipuncak gunung Lawu hilang tanpa jejak.
Hanya.meninggalkan jejak kaki tanpa bekas ditanah basah namun suana kala itu berubah datanglah seorang ulama muda dari Pasuruan yang bernama kyai Abdul Manar.
Kyai Abdul Manar dikenal seorang dakwah didaerah daerah terpencil Jawa Timur ia berjalan menerobos hutan yang sangat lebat penduduk desa menyambutnya dengan hati hati dengan membawa kitab kecil dan tongkat dari kayu jati.
Kyai Abdul Manar berjalan menembus lebatnya hutan belantara gunung Lawu ditemani beberapa santri, penduduk desa menyambutnya hati hati mereka berbisik memperingatkan kepada kyai muda agar tidak melewati hutan lereng Raung jangan kyai masuk kehutan lereng Raung itu berbahaya kata salah seorang penduduk itu seorang Bekel/lurah desa dekat lereng Raung gunung Lawu.
Jangan kyai disana ada Kijang Rana yang Sakti mandraguna kata Bekel dia bisa membuat batu bisa bicara dan petir menyambar siapa saja yang melawan kata seorang Bekel namun kyai Abdul Manar hanya tersenyum lembut dan penuh kharisma.
Kata kyai muda tak akan ada kekuatan besar selain kekuatan Allah SWT kata kyai muda tersebut, malam itu ia mengumandangkan adzan di surau desa kecil tapi suara takbir berkumandang angin mendadak berhembus kencang atap si raung berguncang api padam kabut hitam menyelimuti seluruh desa dari arah gunung terdengar suara berat menggema berhenti wahai orang asing ini bukan tanahmu.
Suara itu membuat santri santri gemetar namun kyai Abdul Manar tetap duduk tenang bersila memejamkan mata melantunkan ayat kursi suara ayat itu menggema hingga kepuncak gunung Lawu tiba tiba tanah berguncang memantul diantara pohon pinus tiba tiba muncul sosok menakutkan rambut panjang mata menyala merah membara.
Tubuhnya diselimuti kabut hitam tubuhnya samar wujudnya menyeramkan itulah Kijang Ranah sang dukun gunung Raung , kijang Ranah berkata kamu sangat berani melantunkan ayat itu ditanah kekuasaanku suaranya menggema seperti guntur kyai Abdul Manar berdiri.
Aku hanya membaca kalimah menjaga alam seluruh semesta jika kau mahkluk Allah maka tunduk lah padanya kijang Ranah tertawa keras tapi tawa itu berubah menjadi jeritan panjang api menyala disekitarnya.
Kabut hitam mulai menghilang kyai Abdul Manar mulai melantunkan ayat kursi semakin keras setelah itu angin mulai tenang kabut hitam memutar mutar semakin tipis dan menghilang suara lantunan ayat kursi semakin keras semakin kencang menembus langit
Kijang Ranah akhirnya takut dan menjauh dari suara lantunan kalimah ayat kursi itu penduduk akhirnya mulai membangun desa mendirikan masjid masjid, mengolah tanah untuk sumber kehidupan belajar mengaji dan menjalankan sholat dibawah pimpinan kyai Abdul Manar hingga sekarang penduduk desa aman tanah subur kehidupan penduduk menjadi makmur .
( Dwi N )












