Editor : Hari Styn
Tanah Datar ( JMG ) Memasuki hari ketiga pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda Nagari Malalo hingga kawasan Tigo Jurai, situasi di lapangan masih berada dalam kondisi darurat tingkat tinggi. Kerusakan infrastruktur yang parah membuat seluruh kawasan praktis terisolasi dan menyulitkan proses penanganan.
Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE, MM kembali turun langsung meninjau sejumlah titik terdampak pada Sabtu (29/11). Ia bersama jajaran Forkopimda memastikan bahwa seluruh upaya tanggap darurat tetap berjalan meski akses darat menuju Malalo benar-benar terputus.
Akses Darat Lumpuh, Jalur Danau Jadi Napas Utama
Sedikitnya enam titik banjir bandang memutuskan jalur Sumpu–Malalo. Tebalnya material longsor, tumpukan kayu, serta aliran galodo yang masih aktif membuat pembukaan akses darat berjalan lambat dan penuh risiko.
Dengan kondisi tersebut, jalur Danau Singkarak menjadi satu-satunya jalur hidup untuk mengangkut logistik dan melakukan evakuasi warga.
Tim gabungan mengandalkan perahu karet, kapal kayu, hingga perahu nelayan untuk keluar masuk wilayah terdampak, meskipun cuaca di danau kerap berubah dan membahayakan perjalanan.
Hingga Sabtu sore, Bupati Eka Putra menegaskan bahwa seluruh bantuan yang masuk masih sepenuhnya berasal dari kekuatan internal Kabupaten Tanah Datar. Mulai dari masyarakat, ASN, TNI, Polri, tenaga kesehatan, BPBD, hingga para relawan lokal bekerja tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan warga.
Sementara itu, bantuan dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat belum tercatat masuk ke titik bencana.
Untuk percepatan penanganan, Pemkab Tanah Datar telah mengalokasikan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 3 miliar, serta menyiapkan lima ton beras cadangan untuk kebutuhan darurat.
Pantauan tim teknis menunjukkan adanya potensi longsor susulan dari kawasan hulu. Tumpukan kayu, batu, dan material besar masih menggantung di sejumlah lereng, yang sewaktu-waktu dapat turun jika hujan kembali mengguyur kawasan Malalo.
Karena itu, masyarakat di Padang Laweh, Guguak Malalo, dan wilayah lereng lainnya kembali diminta untuk mengungsi ke Posko Utama Batutaba demi menghindari risiko ulang.
Berbagai tim penanganan bencana terus bekerja memaksimalkan jalur air yang menjadi tulang punggung pengangkutan logistik. Evakuasi kelompok rentan—anak-anak, lansia, dan perempuan—menjadi prioritas utama.
Hingga hari ketiga, kerja sama masyarakat, relawan, dan pemerintah daerah menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan penanganan darurat di tengah minimnya dukungan eksternal.
( RN )












