Editor : Fauza Afifah
Dharmasraya, (JMG)- Gairahkan semangat pelestarian sungai dan kearifan lokal serta mengungkap tabir peninggalan sejarah Dharmasraya, Ratusan peserta Ekspedisi pamalayu, arungi Sungai Batang Hari,menggunakan 56 perahu mesin menuju Komplek Candi Pulau Sawah.
Kenduri Swarnabhumi menempatkan sungai adalah variabel penting dalam sebuah peradaban masa lalu. Kegiatan Kenduri Swarnabhumi diharapkan dapat menghubungkan kembali masyarakat dengan lingkungan berbasis budaya sehingga dapat menjadi stimulus dalam memperkuat semangat pelestarian sungai dan kearifan lokal.
“Ada 56 perahu mesin, yang kita terjunkan untuk susuri Sungai Batanghari sebagai bentuk sejarah,” kata Kadis Budparpora Dharmasraya, St Taufik, usai pelepasan Tim Ekspedisi oleh Sekdakab setempat. Sealasa (23/08/22).
Ia menyebutkan, bahwa Ekspedisi Sungai Batanghari yang dilakukan oleh ratusan orang dari berbagai lini itu, dimulai dari Pulau Punjung, tepatnya di bawah jembatan Kabel stay menuju Candi Pulau Sawah.
“Ada lebih kurang 7 kilometer jarak dari Pulau Punjung ke Candi Pulau Sawah, dengan harapan kegiatan ini mampu merangsang masyarakat untuk kembali mengingat sejarah,” ucapnya.
Kata Bupati, Festival Pamalayu ini bukan hanya sekedar belajar peradaban saja, akan tetapi bagaimana caranya untuk mejaga lingkungan, social budaya juga harus diperkuat. Hari ini merupakan hari yang sangat special sekali untuk masyarakat Kabupaten Dharmasraya, karena kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Gubernur Jambi dan juga dihadiri oleh Bupati se aliran Batanghari. Hal ini merupakan suatu bentuk komitmen kita untuk menjaga kelestarian Batanghari dari hulu sampai hilirnya.
“Ini adalah suatu komitmen kita untuk selalu menjaga kelestarian Batanghari dari hulu sampai hilirnya. Ada 8 kabupaten kota dan dua provinsi yang dialiri oleh aliran sungai Batanghari, dan merupakan salah satu sungai terpanjang di Indonesia sepanjang 730 km. Kami perlu kerja sama yang kuat dan kongkrit,” kata Sutan Riska.
Selain itu, candi yang berada di Kabupaten Dharmasraya merupakan sebuah candi yang sangat bagus sekali seperti kota besar pada zaman kejayaannya dahulu. Sampai ke Tebo, Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur. Candi ini harus terus dijaga kelestariannya dan dirawat.
“Saya membawa anak-anak sekolah SD, SMP dan SMA untuk sekolah lapangan. Belajar bagaimana cara mengali dan mengenal lebih dalam tentang cerita Festival Pamalayu. Karena sejarah yang ada di Dharmasraya, bukan sekedar cerita rakyat. Akan tetapi cerita yang benar-benar terjadi, dan ini diungkapkan oleh para sejarahwan, arkeolog dan yang berkopenten di bidang sejarah,” ucapnya.

Bupati juga berharap dengan semangatnya Festival Pamalayu menjadi kekuatan bagi pemerintah untuk membuat destinasi wisata baru di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi. Sehinga dapat mempertahankan budaya, peradaban dan adat yang sudah ada, agar tidak akan hilang oleh perubahan zaman yang saat ini cepat sekali berkembang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Dirjen, karena telah memberikan perhatian yang sangat luar biasa atas pelaksanaan Festival Pamalayu ini. Dengan adanya kegiatan ini, kita bisa belajar bersama tentang peradaban,” jelasnya lagi.
Sedangkan menurut Gubernur Sumatera Barat menyampaikan dengan tegas bahwa kegiatan Festival Pamalayu ini sangat disambut baik, dan mengapresiasikan kegiatan ini. Karena kebudayaan yang tertua ada di pinggiran sungai, makannya kota-kota yang berkembang adalah kota yang berada di pinggiran sungai. Kebudayaan tua di Sumatera ini adalah yang menghadap ke sungai. Pusat kebudayaan, pusat pemerintahan dan pusat peradaban memang terletak dipinggirn sungai. Sama halnya, kota-kota yang berada di pinggir pantai.
“Suatu langkah yang tepat yang dilakukan oleh Bupati Dharmasraya pada hari ini, karena peradaban dan segala yang kita butuhkan untuk kehidupan kita umumnya berasal dari perairan. Baik itu berasal dari laut ataupun dari sungai. Untuk itu sangat tepat sekali adanya kegiatan pada hari ini, untuk mengajak masyarakat kembali mengenal, mengali dan mengetahui peradaban yang ada. Dan kita berharap agar masyarakat dapat mencintai dan melestarikan aliran sungai Batanghari,” kata Gubernur Sumatera Barat.
Sementara itu menurut Gubernur Jambi, ada hubungan yang sangat luar biasa antara Provinsi Jambi dengan Provinsi Sumatera Barat yakni keterikatan dengan Sungai Batanghari. Oleh karena itu, Batanghari dari mulai Cina Selatan masuk ke Batanghari sampai ke Dharmasraya, maka adanya peninggalan berupa candi baik di Dharmasraya, Tebo dan Muaro Jambi.
“Kita berharap dengan adanya kegiatan ini, maka kita bisa memberikan sebuah narasi kepada seluruh anak anak muda generasi muda yang ada untuk lebih dalam mengenal peradaban sejarah Sungai Batanghari. Bukan hanya sekedar mengetahui bahwa di Dharmasraya ataupun di Muaro Jambi ada sebuah candi. Akan tetapi, mereka lebih dalam mengetahui sebuah sejarah tentang peradabannya,” kata Gubernur Provinsi Jambi.
Usai acara, 30 orang tim Ekspedisi kembali susuri Sungai Batanghari menuju Jambi. Dimana, 30 orang itu, berasal dari berbagai lini. Ada dari kalangan Mahasiswa hingga sejarawan.
Kegiatan menguak tabir sejarah tersebut juga dihadiri Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Bupati Tebo, H.Sukandar, Gubernur Jambi, H.Al Haris, Gubernur Sumatera Barat, H.Mahyeldi Ansyarullah, Pemred Harian Singgalang, Khairul Jasmi, Kopolres Dharmasraya, AKBP Nurhadiansyah, para pentinggi kabupaten lainnya, Raja Siguntur, Padang Laweh, Pulau Punjung, Koto Besar, Puti Sungai Kambuik, para ulama, niniak mamak, bundo kanduang, hulu balang serta ratusan undangan lainnya. (Dlooyd)












