Lomba Senam Sicita Boncu Competition Dalam Rangka Memperingati Hari Ibu

Editor : Widiyo Prakoso

Sragen (JMG) – Kegiatan senam untuk ibu-ibu sudah lah lazim di era sekarang ini. Disamping untuk menjaga kebugaran, senam merupakan kegiatan yang bisa dilombakan. Mulai dari gerakan, kekompakan serta keserasian antara gerak dengan lagu. Hal ini menjadi dasar Nugroho Sulistyo, SH., ST. selaku Komandan Bintang Dua Kabupaten Sragen mengadakan lomba senam. Kegiatan dimulai pada pukul 08.00 bertempat di rumah Nugroho Sulistyo, SH., ST. Dukuh Modro RT 01, Kelurahan Soko, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, Minggu (18/12/22).

Kegiatan lomba ini diikuti oleh lebih kurang 70 peserta yang berasal dari lingkungan setempat. Mulai dari lajang, ibu-ibu rumah tangga sampai dengan nenek-nenek pun mengikuti kegiatan ini.

“Alhamdulillah, antusias masyarakat sangat luar biasa. Walau kegiatan dimulai pagi-pagi dan di hari minggu yang notabene hari untuk berkumpul dengan keluarga, masyarakat masih meluangkan waktu untuk datang serta menjadi peserta dalam lomba ini,” jelas Nugroho yang akrab dengan panggilan Boncu ini.

Kegiatan lomba sendiri ini sebagai memperingati Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember sendiri baru diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Dan puncak peringatan Hari Ibu yang paling meriah adalah pada peringatan yang ke 25 pada tahun 1953. Tidak kurang dari 85 kota Indonesia dari Meulaboh sampai Ternate merayakan peringatan Hari Ibu secara meriah. Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu adalah setelah Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara Nasional hingga saat ini.

“Hari Ibu bukan lah hanya diperingati dan dirayakan, namun benar-benar harus diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam Agama Islam pun dijelaskan kecintaan dan kasih sayang kepada seorang Ibu harus 3 kali lipat dibandingkan pada seorang Ayah. Sebab, seorang Ibu harus melewati banyak kesulitan selama mengandung sang anak. Kesulitan di masa kehamilan, ketika melahirkan, serta kesulitan saat menyusui dan merawat anaknya. Hal itu hanya dialami seorang ibu, tidak seorang Ayah,” pungkas Nugroho Sulistyo, SH., ST. (Sapto Haryono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *