Kisah Penjaga Komplek Makam Raja Mataram Di Imogiri

Editor : Mas Pay

Bantul (JMG ) – Kabupaten Bantul Jogjakarta, terdapat Komplek Makam Raja-Raja Mataram yang terletak di Imogiri, begini “Kisah seorang juru kunci penjaga Makam Raja Mataram Imogiri Jogjakarta.( Jumat 22 September 2023). Mbah Jadir adalah seorang abdi dalem penjaga Makam Raja-raja Mataram di Imogiri.

Dari arah timur matahari mulai menunjukan kekuatannya, sengatan panasnya sinar mentari mulai unjuk gigi di antara gerombolan awan yang menaungi Daerah Istimewa Jogjakarta. Siang yang begitu terasa gerah/sumuk tak”kan menyurutkan setiap langkahku yang menapaki jejak-jejak leluhur Raja Mataram di sebuah makam.

Awak media Jejak Media Grup 77 terus menelusuri jejak leluhur Makam Raja-Raja Mataram Di Imogiri nama daerah tempatnya, yang terletak di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Komplek pemakaman Raja Mataram di Imogiri relatif sangat terkenal yang terletak di Jogjakarta. Maka tak heran banyak wisatawan yang berlibur dan berkunjung ke Jogja mengunjungi areal komplek pemakaman yang dibangun sejak 1632 Masehi ini.

Waktu telah semakin pada siang, saya saksikan kali ini, saya telah banyak berjumpa beberapa wisatawan mancanegara yang mungkin penasaran dan ingin melihat bagaimana pusara para raja Mataram yang terletak di antara gugusan Pegunungan Sewu, Bantul Jogja.

Kini sebelum menapak menaiki ratusan anak tangga yang menuju makam, langkah kaki saya sempat terhenti sejenak untuk mengamati tulisan silsilah keluarga raja-raja Kutai hingga Mataram, dan Masjid Makam Imogiri yang tepat berada di depan gerbang. Adapun Silsilah raja-raja Kutai hingga Mataram.

Pada saat situasi makam yang udaranya sejuk dan rindang nampak aura mistis telah kurasakan, lalu langkah kaki saya membimbing saya untuk duduk di sebuah pendopo kecil di depan Masjid Makam Imogiri, dan sambil menyambangi seorang abdi dalem juru kunci yang bertugas di area komplek pemakaman ini.

Sang Abdi dalem juru kunci yang saya temui bernama Mbah Jadir, lelaki berumur 74 tahun yang saat ini berpangkat sebagai Ra’kian Mantri abdi dalem Kraton.

Mbah Jadir dikuasakan tugas sebagai salah satu juru kunci makam di komplek pemakaman Imogiri. Percakapan kami sambil bersendau gurau yang begitu penuh canda yang hangat dan seru pun terjadi. Saya yang merasa penasaran dengan Al kisah teladan sang Sultan Agung yang langsung dijawab Mbah Jadir diawali dengan cerita tentang ‘kesaktian’ Sultan Agung yang tak pernah gentar berhadapan dengan musuh-musuhnya.

Disamping bercerita tentang bagaimana karisma Sultan Agung Hanyakrakusumo selama memimpin Mataram yang disegani di dunia sampai dinobatkan sebagai pahlawan nasional Indonesia, obrolan kamipun juga berpindah-pindah sesuai aliran pada tema yang diperbincangkan. Aku dan Mbah Jadir tampak semakin akrab, tak ketinggalan Mbah Jadir juga berbagi pengalaman tentang kisah hidupnya yang pernah merantau ke pusat Kota Jogja, menjadi kondektur bus semasa mudanya dulu.

Kemudian menjelajah Jakarta, hidup apa adanya, hingga memutuskan untuk menjadi abdi dalem Kraton hingga berpuluh-puluh tahun lamanya sampai sekarang. Saat saat ceritanya Mbah Jadir juga sering mengutip filosofi hidup yang sering diterapkan oleh orang Jawa seperti sadumuk bathuk senyari bumi, nrimo ing pandum, sabda pandita ratu tan kena wolak-walik, dan sebagainya.

Dengan bijak, Mbah Jadir mengingatkan agar generasi muda jaman sekarang juga tak melupakan prinsip-prinsip hidup yang bermoral, tidak melupakan adat istiadat yang sudah diterapkan dan diajarkan leluhur yang masih relevan untuk diterapkan. Ketika saya bertanya tentang kehidupan abdi dalem, Mbah Jadir menuturkan, “Jadi abdi dalem bayarane memang sedikit, Mas sambil tersenyum dengan gigi ompongnya sesekali mengisap rokok kretek tingwenya. Tapi yo alhamdulillah mencukupi. Sejak Undang-Undang Keistimewaan disahkan, kehidupan abdi dalem lumayan ada perbaikan, Mas.

Yo pokoke dapur iso tetep ngebul kendile ora Goling to mas,” Seru Mbah Jadir sambil tersenyum kembali menampakan giginya yang sudah ompong. Mbah Jadir juga mengatakan yang sebenarnya yang dicari orang sebagai ‘operasional hidup’ sebenarnya bukan kuantitas yang banyak, melainkan pengetahuan dan perasaan hingga level ‘yang cukup’ buat kita.

Mbah Jadir adalah bukti nyata bagaimana rasa syukur mampu membuat cukup perasaan atas nikmat yang diberikan Tuhan. “Aku bertanya pada Mbah Jadir? Lalu apa suka dan dukanya menjadi abdi dalem, Mbah? “Wong urip kuwi mung sawang sinawang /Hidup itu hanya saling memandang, Mas. Abdi dalem itu kelihatannya sepele, apalagi seperti saya, hanya seorang penjaga kuburan. Tapi, setiap pejabat, jenderal, calon presiden, bahkan presiden yang berkunjung ke sini, pasti bersalaman dan manut, tunduk (patuh) pada aturan dan prosedur kami yang berlaku,” ujar Mbah Jadir mantap. Kepada Awak Media JMG.

Pada diusianya yang senja, Mbah Jadir tampak bugar dan sumringah melaksanakan segala aktivitasnya. Saya sungguh beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat berharga bisa bertemu sosok inspiratif dan bijaksana seperti Mbah Jadir. “Mbah Jadir mengatakan saya sudah puluhan tahun menjaga makam. Kini saatnya sisa usia saya dihabiskan untuk menabung amal sebelum saya sendiri dimakamkan. Yo ngene iki /Ya begini Mas, setiap waktu sholat datang, saya harus menjadi yang terdepan di antara para jamaah lain dan teman-teman,” ucap Mbah Jadir sambil bersiap untuk wudhu setelah adzan berkumandang. ( Dwi Nurbiyanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *