Alkisah Perjalanan Seorang Pendekar Silat Perisai Diri Yang Sukses Dalyatno Parto Harjono

Karanganyar, (JMG) – Perguruan Silat Perisai Diri pertama Lahir pada tahun 1955 yang didirikan tokoh Pendekar besar yang disegani pada masanya yaitu R. M. S Dirdjo Atmojo dari keraton Paku Alam Jogjakarta. Rabu 4 September 2024.

R. M. S Dirdjo Atmojo seorang pendekar besar yang bijaksana sekaligus pendiri Perguruan Silat Perisai Diri hingga kini menjadi besar sampai mendunia, berkat kerja keras beliau yang berhasil menurunkan para murid pendekar pendekar yang sukses membawa perguruan silat Perisai Diri menjadi besar dan mendunia.

Menurut keterangan Dalyatno Parto Harjono, pada 1962 perguruan silat Perisai Diri mulai membuka perguruan untuk menurunkan ilmu silatnya di perumahan perumahan PTPN pabrik Gula Colomadu Karanganyar.

Akhirnya dengan ijin dari PTPN mulai membuka di Panti Soko pada tahun 1964 dengan angkatan pertama mas Nardi, Sarjono, Taroko dan yang lainya.

Menurut penjelasan Dalyatno Perisai Diri mulai masuk di Panti Soko pada tahun 1964 seijin pemilik PTPN Colomadu, Karanganyar.

Di Panti Soko mulai latihan silat Perisai Diri dan perkembangannya sangat pesat pada waktu itu, karena perguruan perguruan silat lainya belum kelihatan pada waktu itu.

Dalyatno pada waktu sebelum masuk belajar silat di Perisai Diri di Panti Soko, menrutnya para senior seniornya sangatlah hebat dengan belajar dan latihan yang sangat keras, hingga perguruan silat Perisai Diri terkenal dan bisa memunculkan pendekar pendekar hebat hingga perguruan silat Perisai Diri mendunia sampai masuk luar negri.

Pada waktu itu Perisai Diri panti Soko pelajarannya/pendidikanya sangat keras dan disiplin yang sangat tinggi, pada waktu itu untuk sarana peralatan peralatan belum memadai hanya seadanya.

Waktu itu belajar kenaikan tingkat para siswa yang levelnya masih dibawahnya hanya bisa mengintip dari luar, ya memang pada waktu itu berlatih silat dipilah pilah tempatnya sendiri sendiri tidak dijadikan satu karena tingkatannya berbeda. Sekarang dengan adanya perubahan waktu sekarang latihan digabungkan jadi satu.

Dalyatno mengatakan dirinya mulai masuk belajar silat di perguruan Perisai Diri pada tahun 1967 dengan angkatan ke VII, dengan semangat yang tinggi, Dalyatno sampai belajar sendiri apa yang diajarkan pelatihnya, Dalyatnya belajar tanpa mengenal lelah dan waktu, sampai temen temenya menegur dan bilang ? Ngapain siang siang latihan bikin capai dan panas, tapi dirinya tidak memperdulikannya.

Pada akhirnya dirinya sukses dan membuka mendirikan perguruan silat Perisai Diri dengan Beaya sendiri membangun gedung untuk belajar latihan di Dukuh Gawanan Colomadu Katranganyar.

Pada waktu belajar di Panti Soko menurut Dalyatno Parto Harjono banyak sekali memunculkan pendekar pendekar senior seperti Nardy. Dan memunculkan pendekar seperti dirinya sendiri dan Heru Tetuko. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Dan banyak lagi muncul pendekar pendekar muda seperti Aris, Edy, Teguh Wiyono, Suryadi, Wachid, Totok dan masih banyak lagi.

Dalyatno Parto Harjono sampai mendirikan padepokan Silat Perisai Diri dengan Beaya sendiri, karena dengan alasan dirinya merasa berhutang dengan pak Dirdjo Atmojo pendiri Silat Perisai Diri, pada waktu Dirinya (Dalyatno Parto Harjono ) melamar kerja masuk di Astra itu telah membuat karya tulis Perisai Diri yang pada intinya kehidupan di Jakarta waktu sangat keras dan memerlukan beladiri dan harus bisa menguasai silat.

Akhirnya hari itu juga diterima bekerja di Astra, setelah lama bekerja beliau menghilang dan pindah bekerja dan tugas di Jepang, bahkan sesibuk sibuknya dirinya bekerja tetap berkomunikasi dengan Heru Tetuko yang dipasrahi untuk bertanggung jawab mendidik siswa belajar silat Perisai Diri di padepokannya Dalyatno sendiri yang didirikan Dalyatno di Gawanan Colomadu Karanganyar hingga sekarang yang didukung oleh pendekar pendekar seperti Aris, Teguh Wiyono, Edy, Suryadi, Budi Lotex, Suripto, Abu dan masih banyak lagi pendekar pendekar yang tidak bisa kamu sebutkan satu persatu.” Katanya ( Dwi Nurbiyanto )

Penulis: Dwi NurbiyantoEditor: De Ola

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *