Editor : Jean
Tanah Datar (JMG) Polemik yang sempat mencuat terkait aktivitas pemuda dalam membantu pengaturan arus lalu lintas di kawasan Jembatan Manunggal, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, akhirnya berakhir dengan jalan damai. Kesalahpahaman yang sempat memicu ketegangan antara jajaran kepolisian dan pemuda setempat resmi diselesaikan melalui musyawarah yang berlangsung penuh kekeluargaan.
Pertemuan yang digelar di Masjid Al-Ikhlas, Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Jumat (17/7), menjadi momentum penting untuk mengakhiri polemik yang berkembang dalam beberapa hari terakhir. Proses mediasi dilakukan atas arahan Kapolres Tanah Datar dengan menghadirkan seluruh pihak yang berkepentingan.
Hadir dalam pertemuan tersebut Wakapolres Tanah Datar Kompol Imam Khalid Hari Mardono, S.E., bersama jajaran Polres Tanah Datar, Asisten I Setdakab Tanah Datar Jasrinaldi, Kepala Dinas Perhubungan, Camat Lima Kaum, Wali Nagari Lima Kaum, Ketua Pemuda Nagari Muhammad Husen beserta tokoh masyarakat, ninik mamak, alim ulama, dan unsur pemuda.
Dalam forum yang berlangsung terbuka dan penuh kekeluargaan itu, Kapolsek Lima Kaum AKP Asril secara langsung menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan yang sebelumnya menimbulkan ketersinggungan di kalangan pemuda. Permohonan maaf tersebut diterima dengan lapang dada oleh seluruh elemen masyarakat yang hadir.
Momentum itu sekaligus menjadi titik balik hubungan antara aparat kepolisian dan pemuda yang selama ini bersama-sama menjaga kelancaran arus lalu lintas di sekitar proyek pembangunan Jembatan Manunggal.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa kehadiran para pemuda dalam membantu pengaturan lalu lintas merupakan bentuk partisipasi sosial yang patut diapresiasi selama dilakukan secara tertib dan tetap berkoordinasi dengan aparat terkait.
Dalam kesepakatan bersama, para pemuda kembali diberi ruang untuk membantu mengatur arus kendaraan di lokasi pembangunan jembatan demi mengurangi kemacetan yang kerap terjadi.
Terkait sumbangan dari pengguna jalan, ditegaskan bahwa seluruh bantuan yang diberikan masyarakat bersifat sukarela, tanpa adanya unsur paksaan ataupun tarif tertentu. Dana yang terkumpul nantinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan Masjid Al-Ikhlas serta membantu anak-anak yatim di lingkungan sekitar.
Kesepahaman tersebut sekaligus meluruskan berbagai persepsi yang sempat berkembang di tengah masyarakat. Semangat gotong royong yang menjadi dasar keterlibatan pemuda ditegaskan sebagai bentuk kepedulian sosial, bukan untuk kepentingan pribadi.
Penyelesaian persoalan melalui dialog ini juga menunjukkan komitmen kepolisian dan pemerintah daerah dalam mengedepankan pendekatan persuasif, mengutamakan musyawarah, serta menjaga hubungan harmonis dengan seluruh elemen masyarakat.
Dengan berakhirnya polemik tersebut, situasi di Nagari Lima Kaum kembali kondusif. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah nagari, dan pemuda diharapkan semakin kuat dalam menjaga ketertiban selama proses pembangunan Jembatan Manunggal berlangsung.
Perdamaian ini menjadi pesan bahwa setiap perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Dengan semangat kebersamaan itu, masyarakat berharap pembangunan Jembatan Manunggal dapat berjalan lancar hingga selesai, sementara nilai-nilai persatuan dan gotong royong tetap terpelihara di tengah kehidupan warga. (RN)












