Remaja di Persimpangan Moral: Ketika Mushalla dan Taman Jadi Saksi Krisis Nilai di Tanah Datar

 

Editor : Hari Styn

Tanah Datar ( JMG ) (Ranny Saputri) Opini
Beberapa waktu terakhir, publik Tanah Datar dibuat resah.
Petugas Satpol PP beberapa kali mengamankan remaja yang kedapatan berpelukan, berciuman, bahkan berbuat lebih jauh di tempat umum — mulai dari taman kota, halaman rumah dinas, hingga mushalla.
Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran moral, tapi tanda darurat nilai dan arah pendidikan karakter generasi muda kita.

Tanah Datar adalah daerah yang dibangun di atas nilai “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”
Tapi ketika tempat ibadah justru dijadikan tempat perbuatan tak pantas, kita dihadapkan pada kenyataan getir: nilai-nilai luhur mulai retak di tengah derasnya arus digital dan budaya bebas.

Marah boleh, kecewa wajar. Tapi sebelum menuding remaja itu “rusak moral”, mari tanya diri:
Apakah mereka mendapat pendidikan tentang cinta, batas, dan tanggung jawab di rumah dan sekolah?
Atau mereka hanya belajar dari media sosial dan tontonan yang kita biarkan tanpa pengawasan?

Anak yang tak diajak bicara di rumah, akan belajar diam-diam di luar.
Kita masih alergi bicara soal seksualitas. Padahal pendidikan seks bukan mengajarkan cara, tapi mengajarkan kendali dan penghormatan terhadap diri sendiri.
Kita bisa ajarkan nilai-nilai itu lewat agama, adat, dan pendekatan psikologis yang lembut — tanpa menggurui, tanpa menghakimi.

Menertibkan itu penting, tapi membina jauh lebih penting.
Orang tua, sekolah, tokoh agama, dan pemerintah perlu duduk satu meja.
Buat ruang aman bagi remaja untuk belajar, berdialog, dan menyalurkan rasa ingin tahu dengan cara yang sehat.
Misalnya lewat program pembinaan remaja digital, kajian remaja, atau forum ngaji nilai dan emosi.

Remaja meniru, bukan mendengar.
Jika orang dewasa penuh kebohongan, kekerasan, dan kemunafikan, jangan heran mereka kehilangan kompas moralnya.
Tugas kita bukan menakut-nakuti mereka dengan dosa, tapi menunjukkan bahwa cinta dan iman bisa berjalan beriringan dengan akal sehat dan kasih sayang.

Tanah Datar yang dijuluki Luhak Nan Tuo seharusnya jadi penjaga nilai, bukan saksi kejatuhan moral generasi.
Mari kita pulihkan kehangatan keluarga, keteladanan guru, dan keberanian masyarakat untuk berdialog dengan anak muda.

Remaja bukan masalah mereka adalah cermin dari dunia yang kita bangun.
Jika cermin itu retak, bukan mereka yang harus dibuang, tapi kita semua yang perlu memperbaiki pantulannya.

Mari jaga Tanah Datar, bukan hanya dengan aturan, tapi dengan hati.
Karena cinta yang tanpa arah akan berlabuh di tempat yang salah.

( RN )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *