Editor : Jean
Oleh: Delmasyah
Masyarakat Pagaruyung – (JMG) Festival Minangkabau 2026 telah usai digelar di Istano Basa Pagaruyung. Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Pagaruyung, tentu saya bangga melihat warisan budaya Minangkabau terus diperkenalkan kepada publik. Namun, kebanggaan itu juga disertai kegelisahan. Di balik kemeriahan panggung dan rangkaian acara yang tersusun rapi, muncul pertanyaan sederhana yang layak dijawab. apakah festival ini benar-benar berhasil menarik minat masyarakat dan wisatawan?
Di dalam kawasan acara, suasana memang tampak hidup Akan tetapi, di luar lokasi penyelenggaraan, antusiasme publik terasa tidak sebanding dengan besarnya gaung yang diharapkan. Respons di media sosial pun memperlihatkan beragam catatan kritis mengenai tingkat kunjungan dan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Persoalan pertama yang patut menjadi bahan evaluasi adalah promosi. Di era digital, keberhasilan sebuah festival sangat ditentukan oleh strategi komunikasi sebelum acara berlangsung. Masyarakat kini memperoleh informasi melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga Facebook. Sayangnya, promosi Festival Minangkabau 2026 belum terlihat mampu menciptakan rasa penasaran publik dalam skala luas.
Sebuah festival tidak cukup hanya mengandalkan seremoni pembukaan atau kehadiran pejabat. Yang dibutuhkan adalah daya tarik yang mampu mengundang wisatawan datang dari berbagai daerah. Konten digital yang menarik, kolaborasi dengan kreator lokal maupun nasional, serta promosi yang dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan seharusnya menjadi bagian penting dari strategi penyelenggaraan.
Hal kedua adalah persoalan infrastruktur. Sulit berbicara mengenai kemajuan sektor pariwisata apabila akses menuju destinasi masih menjadi keluhan. Jalan yang rusak, perjalanan yang kurang nyaman, hingga kondisi infrastruktur pendukung akan memengaruhi keputusan wisatawan untuk datang, bahkan untuk kembali berkunjung.
Pariwisata bukan hanya tentang panggung megah dan dekorasi yang indah. Pengalaman pengunjung dimulai sejak mereka meninggalkan rumah hingga kembali pulang. Jika perjalanan menuju lokasi sudah melelahkan, maka kesan positif terhadap destinasi akan ikut berkurang.
Yang tidak kalah penting adalah soal manfaat ekonomi. Festival seharusnya menjadi momentum bagi pelaku UMKM, pedagang kecil, pengrajin, hingga masyarakat sekitar untuk memperoleh peningkatan pendapatan. Jika setelah acara berakhir para pedagang justru mengaku penjualan belum sesuai harapan, maka kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi bersama.
Di sisi lain, masyarakat juga berhak mengetahui sejauh mana anggaran yang digunakan mampu menghasilkan manfaat nyata. Transparansi bukan sekadar kewajiban administrasi, melainkan bagian dari upaya membangun kepercayaan publik. Semakin terbuka informasi mengenai tujuan dan penggunaan anggaran, semakin kecil ruang munculnya prasangka di tengah masyarakat.
Pagaruyung memiliki modal yang luar biasa. Istano Basa adalah salah satu ikon budaya Minangkabau yang dikenal hingga tingkat nasional. Potensi sebesar ini tidak boleh hanya menjadi latar belakang acara seremonial tahunan, tetapi harus mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Karena itu, beberapa langkah sederhana patut diprioritaskan ke depan. Pertama, memperbaiki akses jalan dan infrastruktur menuju kawasan wisata. Kedua, memperkuat promosi digital dengan melibatkan media, jurnalis, kreator konten, dan influencer secara profesional sejak jauh sebelum pelaksanaan acara.
Ketiga, menyampaikan informasi penggunaan anggaran secara terbuka sehingga masyarakat dapat melihat manfaat yang benar-benar dirasakan.
Kritik bukanlah bentuk kebencian terhadap daerah sendiri. Justru karena mencintai Pagaruyung, banyak anak muda berharap setiap agenda besar yang membawa nama Minangkabau mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Festival yang baik bukan hanya meriah di atas panggung, tetapi juga ramai oleh wisatawan, menguntungkan pelaku usaha kecil, serta meninggalkan optimisme bahwa sektor pariwisata Tanah Datar benar-benar bergerak maju.(Tiem)












