Editor : Hari Styn
Karanganyar ( JMG ) Pesilat dari Perisai Diri Soloraya diminta merapatkan barisan untuk memelihara sikap kekeluargaan dan menjaga kekompakan. Mereka juga diminta tetap solid dan tidak terprovokasi yang dapat memecah belah generasi muda. Sabtu 14 Maret 2026. Peringatan HUT ke-6 Padepokan Silat Perisai Diri Soloraya di Gawanan, Karanganyar, kepada Jejak Media Grup Rabu (14/3/2026).
Peringatan hari ulang tahun padepokan itu dihadiri sekitar 500 pesilat Perisai Diri dan beberapa pengurus perguruan silat di Soloraya.
Selain pemotongan tumpeng oleh Edi Padmono sebagai perwakilan Dari Pemilik Padepokan Solo Raya ketua. Dewan Pembina Padepokan Solo Raya Edi Padmono cabang Karanganyar yang diberikan kepada pembina Kelatnas Perisai Diri Soloraya, Dimas sebagai atlit berprestasi. “Pendekar Senior Heru Tetuko, Pendekar Rohmat, Pendekar Wayan Suda memberikan arahan.
Saya ingin menekankan kepada para pendekar semua, pengemban amanah dalam melestarikan ilmu silat Perisai Diri. Marilah merapatkan barisan untuk memelihara sikap kekeluargaan dan menjaga kekompakan serta kesatuan di antara kita,” kata beliau para Pendekar.
Dia berharap Padepokan Silat Perisai Diri Soloraya mampu mencetak pesilat andal yang mampu mengukir pretasi. Selain itu juga memberikan inspirasi dan motivasi dalam upaya mencetak atlet andal tersebut.
Sejarah mendirikan Padepokan Solo Raya Perisai Diri Dalyatno Partoharjono, pemilik tanah padepokan itu, waktu dihubunginawak media yang kini berada di Jakarta mengatakan pencak silat Perisai Diri mulai masuk ke kawasan Solo dibawa oleh Totok Sumantoro, murid langsung pendiri Perisai Diri, Raden Mas Soebandiman Dirdjo Atmodjo.
Perisai Diri merupakan salah satu dari 10 perguruan historis Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) . Totok mulai menetap di perumahan Pabrik Gula Colomadu pada 1961.
Dia mulai melatih Perisai Diri pada 1962 di Gedung Panti Suko. Murid-murid angkatan pertama seperti Sunardi Sindumintono, Sarjoko, Sartono, dan lainnya. Jelas Pendekar Dalyatno Pemilik Padepokan Solo Raya.
Murid-murid angkatan kedua adalah Jum Saptono, Warto, Suwito Bagus, Sartono, Harni, Solikin, Darsono, dan lainnya. Selanjutnya disusul angkatan-angkatan berikutnya seperti Jumadi, Sumedi, Mulyono, Marto Harjono, Bagyo, Darno, Parjo, Ujianto, Darono, Bandel, Aris Maryono, Dalyatno, Suripto, Heru Sumedi, dan lainnya. Jelas Dalyatno.
Perkembangan Perisai Diri di Colomadu meluas ke daerah sekitarnya. Dengan jumlah anggota yang makin banyak, maka pada 1967 lalu mendapat kepercayaan sebagai penyelenggara Kejuaraan Nasional Silat Perisai Diri III di Solo.
Makin tertatanya organisasi di bawah bimbingan Totok Sumantoro pada tahun 1967 itu Solo juga dipercaya untuk menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional Kelatnas Perisai Diri VI. Torehan sejarah Perisai Diri Jawa Tengah bertambah lagi dengan dibangunnya Padepokan Solo Raya pada 2019.
“Padepokan diresmikan penggunaannya pada 14 Maret 2020 oleh KGPAA Paku Alam X didampingi oleh Ketua Umum Perisai Diri Pusat Dwi Soetjipto dan Ketua Dewan Presidium Dewan Pendekar Hari Soejanto,” katanya.
Hingga 2023, Perisai Diri Jawa Tengah telah memiliki 22 kepengurusan cabang, antara lain Kota Semarang, Mranggen, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, dan Kabupaten Blora. Kemudian Kabupaten Semarang, Kendal, Batang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kota Solo, Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali. Ada pula di Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Klaten, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Wonosobo.
Dwi Nurbiyanto Jurnalis Jejak Media Group, menulis konten di media cetak dan media online secara langsung mengekspos hari ulang tahun Padepokan Solo Raya yang ke – 6.
( Dwi n )












